Demokrasi yang sedang kita anut memanglah dirasa sangat menguntungkan bagi semua warga negara. Selain hak-hak mereka dilindungi, kebebasan mencapai kursi presidenpun terbuka lebar bagi semua rakyat indonesia. Tak terkecuali dengan para selebritis.
Setelah kemarin ramai-ramai kita membicarakan tentang banyaknya kalangan selebritis yang masuk dalam oraganisasi dan partai politik hingga mencapai kursi DPR, sekarang tak mau kalah artis-artis yang mulai turun daun hingga penyanyi dangdut-pun ikut ikutan mencari sensasi dengan mencalonkan diri menjadi calon bupati dan wakil bupati.
Dapat kita lihat dalam media massa ataupun televisi artis seperti julia perez menjadi calon wakil bupati pacitan, inul calon cabup malang, dan ayu azhari cawabup sukabumi, kini giliran maria eva, penyanyi dangdut yang pernah tersandung kasus video mesum dengan mantan anggota dewan yahya zaini kini mencalonkan diri menjadi cawabup kabupaten sidoharjo. Berbagai opini baik pro dan kontra berdatangan dari masyarakat sendiri. Ada yang menyangsikan ada pula yang mendukung.
Memang perlu disadari, negara kita adalah negara yang menganut asas demokrasi yang setiap warga negara berhak mengajukan diri bahkan mencalonkan diri memperoleh kekuasaan baik ditingkat daerah ataupun pusat. Namun yang perlu dipertanyakan adalah kesiapan kita mengatur kehidupan orang banyak. Kekuasaan adalah suatu amanat, bukan suatu hal yang digunakan untuk memperkaya diri.
Esensi dari suatu kedaulatan yang bersumber pada demokrasi adalah landasan kebangsaan [nation] dan manajemen caracter building. Ini yang sebenarnya diperlukan untuk memperoleh atau menjabat dalam suatu instasnsi pemerintah, terlebih dalam mengemban amanah bangsa dan rakyat. Jika memilih dengan salah, siap-siap saja bangsa ini akan semakin terpuruk.
Bukan menyangsikan kualitas para artis untuk terjun mengabdi pada masyarakat luas, atau bahkan meragukan mereka dalam menjalankan amanah bangsa. Namun perlukita ketahui latar belakang politik serta pengalaman mereka. Mengemban amanah bangsa yang multi kultur sangatlah tidak bisa diangap mudah. Apalagi ditengah polemik bangsa yang carut marut. Diperlukan kesiapan mental, pengalaman, dan strategi yang jitu untuk dapat memecahkan berbagai masalah tersebut.
Keikutsertaannya artis dan selebriti hingga mendapat kursi ditingkat instansi pemerintah daerah maupun pusat tak dapat begitu saja lepas dari tanggung jawab parpol. Parpol yang sejatinya harus dapat mengusung suara rakyat, sekarang-pun sudah tak kuat lagi ‘menjunjung’ suara mereka yang mungkin dinilai terlalu berat bagi mereka. Partai politik sekarang hanya senang pesta mubazir dan memberikan ‘isapan jempol’ dengan bagi-bagi kaos oblong bergambar partai dan wajah berdasi calon-calon yang tak tahu siapa mereka, kepada wong cilik. Gambar calonnya tampil eksentrik, namun yang memakai kaos semakin tercekik, akibat tak mengalami perubahan sosial yang lebih baik.
Dan sekarang parpol lebih senang menggunakan artis sebagai alat mencapai tujuan kekuasaan. Mungkin kita harus menilik kembali pada pidato bapak bangsa kita soekarno;‘kita hendak mendirikan suatu negara,’semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan untuk satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi ‘semua buat semua’[ pidato lahirnya pancasila 1 juni 1945]. Apa sebenarnya maksud dari pidato tersebut adalah bahwa sebenarnya parpol seharusnya lebih dapat bertindak rasional dan memakai hati jika harus mementingkan popularitas ketimbang kualiatas. Mau dibawa kemana bangsa ini jika yang memimpin tidak mempunyai karakteristik sebagai pemimpin.
Diadasarkan atas pertimbangan tersebut, kita sebagai rakyat tidak biasa, dengan nalar dan pikiran kita harusnya lebih dapat bersifat dan bertindak kritis. Karena ini menyangkut kepentingan kita sendiri. Kemampuan untuk mengkritik juga harus diselaraskan dengan pencapaian alternatif solusi yang tepat. Bukan hanya sekedar ‘koar-koar’ di depan kantor DPR. Namun lebih bisa bertindak kooperatif dalam pencapaian tujuan yang lebih baik.
Meskipun demikian mungkin kita juga harus lebih mengahargai keinginan para artis dan selebritis untuk benar-benar mau terjun melayani masyarakat. Setidaknya, mereka sudah mempunyai niatan yang baik demi memikirkan nasib rakyat banyak. Jika memang mereka harus menjadi pemimpin, harapan tidak lain adalah perubahan kearah yang lebih baik, bukan hanya sekedar hiburan ’tarian pantat dan perut’ yang bergoyang diatas panggung sandiwara, namun perbaikan yang lebih nyata.
Demokrasi Amburadul
03.12 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar