Betul, betul, betul. Itulah yang sering kita dengarkan dari mulut anak-anak kita ketika mereka sedang asyik menonton acara kartun di sebuah stasiun televisi. Sebut saja program anak itu upin dan ipin. Bahkan para remaja hingga orangtua pun sangat senag ketika disuguhi program televisi yang dirasa sangat kental dengan unsur tradisi, budaya, serta rasa kekeluargaan yang tinggi antar pemain. Inilah yang mungkin menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa kita lebih menyukai tontonan dari luar bangsa kita sendiri daripada tontonan dari bangsa sendiri.
Ketika kita melihat acara reality show, atau acara FTV remaja sangat disayangkan sekali banyak perbedaan yang mencolok antara kualitas acara atau program televisi di negara kita dengan negara lain. Contohnya saja adalah upin dan ipin yang berasal dari progrtam acara negara tetangga kita, malaysia. Film atau program yang ditampilkan oleh stasiun swasta di indonesia sangatlah belum dapat menunjukkan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Bahkan bisa dibilang tidak ada unsur pendidikan sama sekali. Bila kita melihat dengan seksama, program tersebut hanya banyak mengandung unsur khayal, tidak rasional, bersifat anarkhis, dan tidak jarang bersifat pornografi. Inilah yang menjadi bumbu pahit anak-anak kita ketika ditayangkan program yang tidak bermutu. Bila kita melihat satu saja acara semisal si entong atau yang lain dan diperbandingkan dengan upin dan ipin, terlihat sekali budaya kita memang sudah berubah menjadi budaya pop.
Akibat yang ditimbulkan oleh acara yang tidak bermutu tadi, jika menjadi konsumsi masyarakat, apalagi anak-anak, maka lambat laun sifat yang ada pada acara yang ditonton, akan menjadi tuntunan bagi putra-putri kita. Degradasi moral akan semakin terlihat. Norma kesusilaan akan semakin keropos, bahkan timbullah generasi yang hanya terbuai mimpi-mimpi akibat terlalu banyak berkhayal.
Sebenarnya media adalah satu sarana jitu mentansfer unsur pendidikan, budaya, tradisi, serta kebiasaan bangsa. Karena dengan adanya media, pembentukan karakter bangsa akan muncul dan semakin terlihat jika media dapat memanfaatkannya dengan baik. Dapat kita lihat, 95 persen penduduk di indonesia menonton acara di televisi, 5 persen lainnya dengan media yang lain. Nah, dengan adanya fakta tersebut, seharusnya pemerintah maupun swasta seharusnya mennyuguhkan acara-acara yang bermutu bagi konsumsi publik. Sehingga pembentukan karakter bangsa yang berbudi, santun dan sangat menjunjung tinggi asaz kekeluargaan semakin kental.
Lain halnya dengan maksud suatu acara hanya bertujuan ingin menghibur saja, tanpa memasukkan unsur-unsur yang lain. Bisa jadi tujuan itu merubah pandangan bangsa indonesia yang dirasa kolot, mejadi berpikiran modern. Yang patut kita pertanyakan modern seperti apakah yang diinginkan media. Apakah modern dengan cara meninggalkan adat dan tradisi yang sudah kita bangun berabad-abad yang lalu. Tujuan menjadikan karakter pribadi yang bersifat individulalistik.
Memang tidak bisa pungkiri, kebiasaan kita tidak bisa kita lepas dari apa yang namanya televisi. Setiap kita sampai dirumah, tidak lain dan tidak bukan kita lansung menuju ruang keluarga dan langsung menghidupkan televisi, sebagai sarana hiburanb dikala kita sudah terlalu penat dalam bekerja seharian. Televisi tak bisa kita hindari, karena sudah menjadi kebiasaan kita. Maka dara itu, stasiun televisi, seharusnya dapatlah menyuguhkan acara yang bermutu. Tidak hanya sekedar ingin mencari rating ataupun asal asalan dalam menyuguhkannya kepada masyarakat, dan hanya tahu enak ditonton saja.
Seharusnya kita tidak dengan begitu saja meyalahkan media sebagai pemberi program acara yag tidak bermutu. Kita juga sebagai masyarakat seharusnya menjadi media kontrol bagi putra-putri kita ketika mereka sedang asik menonton televisi. Jangan sampai anak-anak kita sembarangan dalam melihat tontonan yang seharusnya tidak mereka tonton. Kita juga harus selektif dan kritis mengahadapi serangan acara televisi yang tidak bermutu, apalagi bersifat tidak mendidik. Lembaga sensor film di indonesia dan lembaga pengawas acara televisi yang lain juga harus menindak tegas bila televisi hanya menyuguhkan acara yang tidak bermutu
Diharapkan ada unsur yang lain. Sehingga nantinya kita dapat melihat tontonan yang tidak hanya menghibur saja, namun juga ada unsur edukatif, culturalist, dan mencerminkan dengan benar karakter bangsa kita yang sangat erat dengan azas kekeluargaannya. Tontonan sebagai konsumsi publik nantinya diharapkan dapat menjadi tuntunan masyarkat luas, terutama anak dan cucu kita. Media sebagai penymbang terbesar dalam pembentukan karakter bangsa, diharpakan mampu menampung dan memberikan anlternatif terbaik, sehingga kehidupan selanjutnya dapat memunculkan generasi yang bukan hanya dibuai mimpi, namun juga merasa mimpi itu ada untuk diraih.
Gagalnya Distribusi Pedidikan Melalui Media
Demokrasi Amburadul
Demokrasi yang sedang kita anut memanglah dirasa sangat menguntungkan bagi semua warga negara. Selain hak-hak mereka dilindungi, kebebasan mencapai kursi presidenpun terbuka lebar bagi semua rakyat indonesia. Tak terkecuali dengan para selebritis.
Setelah kemarin ramai-ramai kita membicarakan tentang banyaknya kalangan selebritis yang masuk dalam oraganisasi dan partai politik hingga mencapai kursi DPR, sekarang tak mau kalah artis-artis yang mulai turun daun hingga penyanyi dangdut-pun ikut ikutan mencari sensasi dengan mencalonkan diri menjadi calon bupati dan wakil bupati.
Dapat kita lihat dalam media massa ataupun televisi artis seperti julia perez menjadi calon wakil bupati pacitan, inul calon cabup malang, dan ayu azhari cawabup sukabumi, kini giliran maria eva, penyanyi dangdut yang pernah tersandung kasus video mesum dengan mantan anggota dewan yahya zaini kini mencalonkan diri menjadi cawabup kabupaten sidoharjo. Berbagai opini baik pro dan kontra berdatangan dari masyarakat sendiri. Ada yang menyangsikan ada pula yang mendukung.
Memang perlu disadari, negara kita adalah negara yang menganut asas demokrasi yang setiap warga negara berhak mengajukan diri bahkan mencalonkan diri memperoleh kekuasaan baik ditingkat daerah ataupun pusat. Namun yang perlu dipertanyakan adalah kesiapan kita mengatur kehidupan orang banyak. Kekuasaan adalah suatu amanat, bukan suatu hal yang digunakan untuk memperkaya diri.
Esensi dari suatu kedaulatan yang bersumber pada demokrasi adalah landasan kebangsaan [nation] dan manajemen caracter building. Ini yang sebenarnya diperlukan untuk memperoleh atau menjabat dalam suatu instasnsi pemerintah, terlebih dalam mengemban amanah bangsa dan rakyat. Jika memilih dengan salah, siap-siap saja bangsa ini akan semakin terpuruk.
Bukan menyangsikan kualitas para artis untuk terjun mengabdi pada masyarakat luas, atau bahkan meragukan mereka dalam menjalankan amanah bangsa. Namun perlukita ketahui latar belakang politik serta pengalaman mereka. Mengemban amanah bangsa yang multi kultur sangatlah tidak bisa diangap mudah. Apalagi ditengah polemik bangsa yang carut marut. Diperlukan kesiapan mental, pengalaman, dan strategi yang jitu untuk dapat memecahkan berbagai masalah tersebut.
Keikutsertaannya artis dan selebriti hingga mendapat kursi ditingkat instansi pemerintah daerah maupun pusat tak dapat begitu saja lepas dari tanggung jawab parpol. Parpol yang sejatinya harus dapat mengusung suara rakyat, sekarang-pun sudah tak kuat lagi ‘menjunjung’ suara mereka yang mungkin dinilai terlalu berat bagi mereka. Partai politik sekarang hanya senang pesta mubazir dan memberikan ‘isapan jempol’ dengan bagi-bagi kaos oblong bergambar partai dan wajah berdasi calon-calon yang tak tahu siapa mereka, kepada wong cilik. Gambar calonnya tampil eksentrik, namun yang memakai kaos semakin tercekik, akibat tak mengalami perubahan sosial yang lebih baik.
Dan sekarang parpol lebih senang menggunakan artis sebagai alat mencapai tujuan kekuasaan. Mungkin kita harus menilik kembali pada pidato bapak bangsa kita soekarno;‘kita hendak mendirikan suatu negara,’semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan untuk satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi ‘semua buat semua’[ pidato lahirnya pancasila 1 juni 1945]. Apa sebenarnya maksud dari pidato tersebut adalah bahwa sebenarnya parpol seharusnya lebih dapat bertindak rasional dan memakai hati jika harus mementingkan popularitas ketimbang kualiatas. Mau dibawa kemana bangsa ini jika yang memimpin tidak mempunyai karakteristik sebagai pemimpin.
Diadasarkan atas pertimbangan tersebut, kita sebagai rakyat tidak biasa, dengan nalar dan pikiran kita harusnya lebih dapat bersifat dan bertindak kritis. Karena ini menyangkut kepentingan kita sendiri. Kemampuan untuk mengkritik juga harus diselaraskan dengan pencapaian alternatif solusi yang tepat. Bukan hanya sekedar ‘koar-koar’ di depan kantor DPR. Namun lebih bisa bertindak kooperatif dalam pencapaian tujuan yang lebih baik.
Meskipun demikian mungkin kita juga harus lebih mengahargai keinginan para artis dan selebritis untuk benar-benar mau terjun melayani masyarakat. Setidaknya, mereka sudah mempunyai niatan yang baik demi memikirkan nasib rakyat banyak. Jika memang mereka harus menjadi pemimpin, harapan tidak lain adalah perubahan kearah yang lebih baik, bukan hanya sekedar hiburan ’tarian pantat dan perut’ yang bergoyang diatas panggung sandiwara, namun perbaikan yang lebih nyata.
Manajemen SDM Dalam Mengembangkan Pendidikan Dan Karakter Bangsa
Pendidikan merupakan hal yang seharusnya menjadi prioritas utama bangsa. Karena lewat pendidikanlah karakter bangsa terbentuk. Melalui pendidikanlah insan yang mandiri, cendekia, bernurani akan tumbuh. Dan tentunya manusia yang dapat menghargai tradisi masa lalu, dan menjadikan suatu kemajuan bangsa.
Namun apakah ranah pendidikan di indonesia sudah mempunyai kader-kader atau personel pendidikan yang punya kualifikasi yang baik, dan apakah pendidikan sudah memelihara dan mengembangkan sumber daya pendidikan dengan selayaknya agar mendukung pendidikan itu sendiri. Tentunya inilah yang patut kita pertanyakan. Konteks pengembangan sumber daya pendidikan bukan hanya semata-mata haya untuk mendapatkan gaji besar dan tunjangan yang menjanjikan. Namun lebih dari pada itu, menanamkan sikap untuk mengabdi kepada anak didik dan pendidikan itulah yang harusnya ditanamkan kepada guru sebagai perintis kemajuan bangsa.
Perolehan seretifikasi oleh guru untuk menunjang kesejahteraan, itulah yang sebagian besar tujuan utama guru-guru di indonesia. Kita tidak bisa menampik bahwa memang saat ini bangsa kita masih jauh tertinggal dengan bangsa lain berkaitan dengan hal kesejahteraan pendidik. Apalagi tentang kesejahteraan pendidik, sarana dan prasarana pendidikan saja masih jauh diluar dari kata layak. Banyak kita lihat gedung-gedung sekolah yang tidak berbentuk gedung, banyak yang hanya beratapkan langit, berdindingkan bambu, dan tak ada satu bukupun. Hanya semangat ingin mencari ilmu dari anak-anaklah yang masih terlihat indah dan pure.
Maka dari itulah saat ini perlu adanya kebijaksanaan dari pemerintah pusat ataupun daerah untuk senantiasa memprioritaskan dana APBN dan APBD untuk kepentingan pendidikan. Bkan yang lain. Hanya dengan pendidikanlah sumber daya yang potensial ini tumbuh dan berkembang, sehingga nantinya kemajuan bangsa dan negara dapat tercapaiu melalui tangan-tangan pendidik. Sudah seharusnya bangsa kita malu karena belum dapatmenciptakan sistem pendidikan gratis dari SD-KULIAH, atau menciptakan generasi pendidik yang qualified di bidangnya